Rabu, 15 Juni 2022

Blog Di sini ada alasan baik yang diberikan kepada orang baik


Di sini ada alasan baik yang diberikan kepada orang baik 


Blog Di sini ada alasan baik yang diberikan kepada orang baik 


I. Mengapa mereka tidak perlu takut pada kematian. Tidak ada alasan untuk takut jika mereka mempunyai pengharapan yang begitu menghibur seperti yang dimiliki Daud di sini akan kebahagiaan yang ada di seberang alam maut (ay. 16). Sebelumnya Dia telah menunjukkan (ay. 15) betapa sengsaranya orang-orang yang mati di dalam dosa-dosa mereka, dan sekarang dia menunjukkan betapa berbahagianya orang-orang yang mati di dalam Tuhan. Pembedaan manusia berdasarkan keadaan lahiriah, betapa pun besarnya perbedaan itu di dalam hidup ini, tidak akan berlaku pada saat kematian. Baik orang kaya maupun orang miskin berjumpa di alam kubur.

Namun pembedaan manusia berdasarkan keadaan rohani, meskipun di dalam hidup ini perbedaannya hanya sedikit dan segalanya tampak serupa bagi semua orang, namun, pada saat kematian dan sesudahnya, perbedaan itu menjadi sangat besar. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Orang benar mempunyai pengharapan pada saat kematiannya, demikian pula Daud di sini punya pengharapan di dalam Allah untuk jiwanya. Perhatikanlah, pengharapan dan kepercayaan bahwa jiwanya akan ditebus dari alam maut dan disambut untuk menerima kemuliaan sangatlah menopang dan menyukakan hati anak-anak Allah di saat kematian menjelang. 

Mereka berharap, 1. Bahwa Allah akan menebus jiwa mereka dari kuasa maut, yang mencakup, 

 (1) Dijaganya jiwa sehingga tidak turun ke alam maut bersama tubuh. Alam maut mempunyai kuasa atas tubuh, berdasarkan kekuatan kutukan yang sudah diberikan (Kej. 3:19), dan kutukan ini cukup gigih menjalankan kuasa itu (Kid. 8:6). Namun kutukan itu tidak mempunyai kuasa seperti itu terhadap jiwa. Kutukan itu berkuasa untuk membungkam, memenjarakan, dan menghancurkan tubuh, namun jiwa kemudian bergerak, bertindak, dan berbicara secara lebih bebas daripada sebelumnya (Why. 6:9-10). Jiwa itu bukanlah benda dan sifatnya tidak fana. Sekalipun maut menghancurkan lentera yang gelap, ia tidak akan memadamkan lilin yang terkurung di dalamnya.

 (2) Disatukannya kembali jiwa dan tubuh pada hari kebangkitan. Jiwa sering kali terancam mati. Jiwa memang jatuh ke dalam kuasa maut untuk sementara waktu, namun pada akhirnya ia akan ditebus dari maut itu, ketika yang fana itu ditelan oleh hidup. Allah segala kehidupan, yang menciptakan jiwa itu pertama kali, dapat dan akan menebusnya pada akhirnya.

 (3) Diselamatkannya jiwa dari kehancuran kekal: “Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman dunia orang mati (ay. 16), dari murka yang akan datang, dari lubang kebinasaan yang kedalamnya orang-orang fasik akan dilemparkan” (ay. 15). Adalah penghiburan yang besar bagi orang-orang kudus yang sedang sekarat bahwa mereka tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua (Why. 2:11), dan oleh sebab itu kematian yang pertama tidak bisa menunjukkan sengatnya dan maut tidak dapat memperoleh kemenangannya. 2. Bahwa Allah akan menerima mereka kepada diri-Nya sendiri. Dia menebus jiwa mereka, supaya Dia dapat menerima mereka. Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku ( 31:6). Dia akan menerima mereka ke dalam kebaikan-Nya, akan membolehkan mereka masuk ke dalam kerajaan-Nya, ke dalam tempat tinggal yang telah dipersiapkan-Nya bagi mereka (Yoh. 14:2-3), kemah abadi itu (Luk. 16:9). II. Mengapa mereka tidak perlu takut terhadap kemakmuran dan kuasa orang-orang fasik di dunia ini, yang, karena merupakan kebanggaan dan kesukaan bagi orang fasik, sering kali menimbulkan iri hati, penderitaan, dan kengerian bagi orang benar. Kendati demikian, jika semuanya dipertimbangkan, tidak ada alasan bagi orang benar untuk merasa seperti itu. 1. Terasa kuat baginya godaan untuk merasa iri hati terhadap keberhasilan orang-orang berdosa, dan untuk merasa takut kalau mereka menyanjung-nyanjung semua itu tanpa memperhatikan perasaan orang lain. Ia takut jangan sampai dengan kekayaan dan kepentingan mereka, mereka menindas agama dan orang beragama. Ia takut jangan sampai mereka dipandang sebagai orang-orang yang benar-benar berbahagia. Sebab, anggapannya,

 (1) Ketika mereka dibuat kaya, mereka juga dimampukan untuk menetapkan hukum bagi semua orang di sekitar mereka dan dapat memperoleh segala sesuatu dengan mudah. Pecuniæ obediunt omnes et omnia – Setiap orang dan segala sesuatu pasti menaati pengaruh dan kekuasaan uang.
 (2) Kemuliaan rumah mereka, dari permulaan yang sangat kecil, biasanya bertambah sangat banyak, dan ini selalu membuat orang menjadi congkak, sombong, dan angkuh. Demikianlah mereka tampak sebagai orang-orang kesayangan sorga, dan oleh sebab itu membahayakan.
 (3) Mereka merasa sangat tenang dan aman dengan diri mereka dan dengan pikiran mereka sendiri (ay. 19): Ia menganggap dirinya berbahagia pada masa hidupnya. Artinya, ia menganggap dirinya sebagai orang yang sangat berbahagia, seperti yang diingininya. Juga, ia menganggap dirinya orang yang sangat baik, seperti yang seharusnya, karena ia berhasil di dunia. Ia memberkati jiwanya sendiri, seperti orang kaya yang bodoh yang berkata kepada jiwanya, “Jiwaku, tenanglah, dan janganlah terganggu oleh segala kekhawatiran dan kecemasan dunia ini atau oleh teguran dan peringatan hati nurani. Semuanya baik-baik, dan akan tetap baik untuk selama-lamanya.” Perhatikanlah:

 [1] Baiklah kita memikirkan apa yang kita pakai untuk memberkati jiwa kita, dan yang dengannya pula kita menilai baik diri kita sendiri, karena akibatnya sungguh besar. Orang-orang percaya memohon berkat demi Allah yang setia (Yes. 65:16) dan menganggap diri mereka berbahagia jika Dia menjadi milik mereka. Orang-orang duniawi memberkati diri mereka sendiri dengan kekayaan duniawi, dan menganggap diri mereka berbahagia jika mereka memilikinya secara berkelimpahan.

 [2] Banyak orang yang jiwanya sungguh berharga ada di bawah kutukan Allah, namun mereka sendiri justru memberkati diri sendiri. Mereka memuji dalam diri mereka sendiri apa yang dikutuk oleh Allah. Mereka mengatakan damai pada diri mereka sendiri sementara Allah menyatakan perang melawan mereka. Namun ini belum seberapa. 

 (4) Mereka mempunyai nama baik di mata tetangga-tetangga mereka: “Orang akan menyanjungmu dan mengelu-elukanmu, sebagai orang yang telah berbuat baik pada dirimu sendiri dengan mengumpulkan harta benda dan keluarga seperti itu.” Ini merupakan pemikiran anak-anak dunia ini, bahwa orang-orang yang paling memperhatikan kebutuhan tubuh mereka, dengan menimbun kekayaan, adalah orang-orang yang berbuat baik terhadap diri mereka sendiri, meskipun, pada saat yang sama, tidak ada satu pun yang mereka perbuat bagi jiwa mereka, bagi kekekalan mereka. Dan sesuai dengan itu pula, anak-anak dunia itu memuji orang yang loba, yang dibenci Tuhan (10:3, kjv). Seandainya manusia adalah hakim kita, maka kita bertindak bijaksana jika kita berusaha mendapatkan pujian dari mereka. Namun, apa untungnya bagi kita jika manusia memuji kita namun Allah mengutuk kita? Menurut pemahaman Dr. Hammond, perkataan ini merujuk pada orang baik yang sedang diajak berbicara di sini, sebab yang digunakan adalah kata ganti orang kedua (kjv), bukan pada orang fasik yang sedang dibicarakan: “Dia, pada masa hidupnya, menganggap dirinya berbahagia, namun engkau akan dipuji sebagai orang yang berbuat baik terhadap dirimu sendiri. Orang duniawi memegahkan dirinya sendiri, namun engkau tidak berkata-kata baik tentang dirimu sendiri seperti dia, tetapi berbuat baik terhadap dirimu sendiri, dengan memperhatikan kesejahteraan hidupmu yang kekal. Dengan demikian, engkau akan dipuji, jika bukan oleh manusia, oleh Allah, yang akan menjadi kehormatan kekal bagimu.



2.Orang benar itu menyarankan apa yang dapat memperlemah kekuatan godaan itu, dengan mengarahkan kita untuk memandang ke depan kepada kesudahan orang-orang berdosa yang berhasil ( 73:17): “Pikirkanlah apa jadinya mereka nanti di dunia yang lain itu, maka engkau tidak akan mempunyai alasan untuk merasa iri terhadap mereka, terhadap siapa mereka dan apa yang mereka miliki di dunia ini.” (1) Di dunia lain itu, mereka tidak akan pernah menjadi lebih baik kendati dengan segala kekayaan dan kemakmuran yang begitu mereka bangga-banggakan sekarang. Bagian mereka di dunia ini sangatlah menyedihkan, karena tidak akan berlangsung lama seperti seharusnya (ay. 18): Pada waktu matinya sudahlah pasti dengan sendirinya bahwa ia akan pergi ke dunia lain sendiri, dan ia tidak akan membawa serta semua harta yang sudah begitu lama ditimbunnya. Oleh sebab itu, orang terbesar dan terkaya pasti bukanlah orang yang paling berbahagia, karena mereka tidak pernah menjadi lebih baik dengan hidup di dunia ini. Sama seperti mereka telanjang ketika memasuki dunia, demikian pula mereka akan telanjang ketika meninggalkannya. Namun orang-orang yang dapat berkata, melalui anugerah, bahwa meskipun mereka datang ke dalam dunia dalam keadaan rusak, berdosa, dan telanjang secara rohani, mereka akan meninggalkannya dalam keadaan diperbarui, dikuduskan, dan dikenakan jubah kebenaran Kristus, mereka ini mempunyai sesuatu untuk diperlihatkan di dunia lain itu mengenai kehidupan mereka di dunia ini. Orang yang kaya dalam anugerah dan penghiburan Roh mempunyai sesuatu yang, pada saat mereka mati, akan turut mereka bawa serta, sesuatu yang tidak dapat dirampas dari mereka oleh kematian, malahan sebaliknya justru akan bertambah dengan kematian. Namun, berkenaan dengan harta-harta duniawi, sama seperti kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia (apa yang kita punyai kita dapatkan dari orang lain), demikian pula sudah pasti bahwa kita pun tidak akan membawa apa-apa ke luar, tetapi harus meninggalkannya kepada orang lain (1Tim. 6:7). Mereka akan turun, namun kemuliaan mereka, apa yang mereka sebut dan mereka anggap sebagai kemuliaan mereka, dan yang di dalamnya mereka bermegah, tidak akan turun mengikuti mereka untuk meringankan aib maut dan alam kubur, untuk meluputkan mereka dari penghakiman, atau untuk meredakan siksaan-siksaan neraka. Anugerah adalah kemuliaan yang akan naik bersama kita, namun tidak ada kemuliaan duniawi yang akan turun mengikuti kita.



 (2) Di dunia lain itu, keadaan mereka akan jauh lebih buruk oleh karena mereka telah menyalahgunakan kekayaan dan kemakmuran yang mereka nikmati di dunia ini (ay. 20): Jiwa akan sampai kepada angkatan nenek moyangnya, nenek moyangnya yang duniawi dan fasik, yang perkataannya ia turuti dan yang jejak-jejaknya ia ikuti, nenek moyangnya yang tidak mau mendengarkan firman Allah (Za. 1:4). Ia akan pergi ke tempat mereka berada, yang di sana mereka tidak akan pernah melihat terang, tidak akan pernah mengecap sedikit pun penghiburan dan sukacita, karena mereka dihukum ke dalam kegelapan yang teramat sangat pekat. Jadi, janganlah takut terhadap kemegahan dan kekuasaan orang-orang fasik. Sebab kesudahan orang yang terhormat, jika ia tidak bijak dan baik, akan sangat menyengsarakan. Jika ia tidak mempunyai pengertian, maka ia harus lebih dikasihani daripada dicemburui. Orang bodoh, orang fasik, di dalam kehormatannya, sesungguhnya sama menjijikkannya seperti binatang apa saja yang ada di bawah matahari ini. Ia boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan (ay. 21). Bahkan, lebih baik menjadi binatang daripada menjadi orang yang membuat dirinya seperti binatang. Orang terhormat yang mempunyai pengertian, yang mengetahui dan melakukan kewajiban mereka dengan segala kesadaran hati nurani mereka, adalah seperti allah, anak-anak Yang Mahatinggi. 



Namun orang terhormat yang tidak mempunyai pengertian, yang sombong, yang menuruti hawa nafsu, dan penindas, adalah seperti binatang, dan mereka akan binasa, seperti binatang. Mereka memalukan bagi dunia ini, dan, meskipun tidak seperti binatang, mereka harus membayar hukuman di dunia yang akan datang. Oleh sebab itu, biarlah orang-orang berdosa yang berhasil merasa takut demi diri mereka sendiri, tetapi janganlah orang-orang kudus sampai takut terhadap mereka, sekalipun menderita.