Minggu, 01 Mei 2022

Pengajaran Paulus

Pengajaran Paulus


Paulus menuliskan 13 suratnya kepada jemaat-jemaat dan pribadi-pribadi berdasarkan permasalahan yang jemaat hadapi dan juga karena kepentingan Paulus demi pelayanan (Misalnya : Surat Pastoral)

 
Pemberitaan dan Nasihat
Pemberitan dan nasihat Paulus tak terpisahkan. Injil diberitakan dengan tujuan pemberitaan berita keselamatan. Pemberitaan berita keselamatan bagi orang yang menerimanya tentu akan berakibat perubahan, baik pola pikir maupun dalam perilakunya. Perbuatan baik adalah buah dari keselamatan bukan syarat keselamatan.
Pola penulisan surat Paulus pertama-tama adalah  salam, sikap Paulus terhadap permasalahan (Pengajaran) dan diakhiri dengan nasihat praktis untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-sehari.
 
  Firman Kebenaran
Paulus bersaksi bahwa oleh panggilan Allah, ia menjadi rasul Kristus. Pengajaran yang ia berikan berasal dari Allah yang kudus. Dalam pelayanan otoritas yang ia miliki adalah otoritas ilahi. Ia adalah utusan Kristus, yang terikat pada tugas menyampaikan apa yang Tuhan Yesus percayakan (2 Kor.5:20). Ia memberitakan Firman Allah bukan ucapan manusia (1 Tes.2:13) berdasarkan hikmat Allah (1 Kor.2:13).
Firman yang diberitakan adalah firman Allah (2 Tim.2:9) yaitu firman kebenaran (2 Tim.2:5), Firman itu meliputi baik Perjanjian Lama (2 Tim. 3:15-17 ; seluruh Kitab Suci adalah inspirasi Allah ay.16), maupun berita rasuli (2 Tim.1:8-14) ; pemberitaan maupun nasihat;”seluruh Kitab Suci … bermanfaat untuk mengajar, menegur, memperbaiki dan mendidik orang dalam kebenaran (2 Tm. 3:16-17). Firman kebenaran mampu memperbarui dan mengubah akal budi (Ef.4:22-24 ; Roma 12:2).
 

Rasul Paulus menulis suratnya (Firman) sebagai seorang gembala kepada pribadi-pribadi yang riil dan utuh. Ia menulis khususnya kepada jemaat-jemaat yang pernah dilayaninya. 

 Bagi Rasul Paulus, Allah berdaulat penuh dalam segala hal:”sebab segala sesuatu adalah dari Dia dan oleh Dia dan kepada Dia: bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” Roma 11:36.Trinitas
Paulus adalah seorang monotheis; ia tidak pernah meninggalkan keyakinan Yahudinya tentang Allah yang esa. Ia adalah “Allah yang kekal … satu-satunya Allah yang penuh hikmat” (Roma 16:26-27). “bagi kita hanya ada satu Allah saja” (1 Kor.8:6). Ia adalah Allah yang hidup dan yang benar (1 Tes.1:9). Allah adalah Allah yang hidup (1 Tim.3:15 ; 4:10). Allah adalah Allah yang satu dan satu-satunya abadi (1:17 ; 2:5). Allah itu kekal dan tak tampak (1:17), dan tak terhampiri (6:16). Jika Dia tidak menyingkapkan diriNya sendiri, ciptaannya tidak akan mengalami anugerah-Nya. Dia disebut Raja (1:17) dan penguasa satu-satunya dan penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan tuan di atas segala tuan (6:15). Namun kemudian pemahaman Paulus tentang Allahnya berubah secara radikal sejak perjumpaannya dengan Yesus Kristus dan pengalamannya dengan Roh Kudus.
Paulus kerap menyebut Allah (Theos) sebagai Bapa dari Yesus Kristus dan ia menyebut Kristus sebagai Anak Allah (Huios Theou). Bagi Paulus Theos adalah sebutan bagi Bapa; Yesus adalah Anak Allah.
Allah Bapa dan Kristus Tuhan dipersatukan dalam aktivitas mereka.
  • Keduanya mencurahkan kasih karunia dan damai sejahtera (1 Kor.1:4 ; Filp.4:7 ; Kol.3:15).
  • Dalam Kristus kita menerima kebenaran Allah (Roma 3:21-26 ; 2 Kor.5:21).
  • Keduanya adalah tumpuan iman (Roma 4:3-5,24 ; Gal 2:16 ; 3:22 ; Fil.1:29 ; 1 Tes.1:8) dan arah ibadah kita.
  • Allah memerintah melalui Anak-Nya (Ef.5:5 ; Kol.1:13 ; 1 Tes.2:12)
  • Berada di bawah ketuhanan Kristus berarti berada di bawah pemerintahan Allah.
  • Jemaat adalah milik Allah dan Kristus (Roma 16:16 ; 1 Kor.1:2 ; 11:16 ; 2 Kor.1:1 ; 1 Tes.1:1 ; 2 Tes.1:1)
  • Orang Kristen adalah hamba Allah dan Kristus (Roma 1:1 ; 6:22 ; Fil.1:1 ; Titus 1:1)
 
Roh Allah adalah Roh Kudus (1 Tes. 1:5-6). Melalui Roh, Allah mencurahkan kasih (Roma 5:5) dan kuasaNya (8:11). Demikian pula Roh Allah adalah Roh Yesus Kristus (Gal. 4:6 ; Roma 8:9-11). Kristus membaptis orang percaya dengan Roh (1 Kor.12:13). Tetapi Roh bukan sekedar suatu pengaruh; pada dirinya Ia adalah satu Pribadi. Seperti Allah dan Kristus, Ia mengasihi manusia (Roma 15:30). Ia menanamkan kehidupan (Roma 8:2), kuat kuasa (Roma 15:13,19 ; 1 Kor.2:4) dan kemampuan untuk berdoa (Roma 8:15,26). Ia menghasilkan dalam diri mereka “buah roh Kudus” yang terutama adalah kasih dan mencurahkan karunia-karunia rohani (1 Kor.12:1-13 ; Gal 5:22-23).

Paulus tidak menguraikan “doktrin Trinitas” secara sistematis. Akan tetapi ia mengaitkan Bapa, Anak dan Roh Kudus dengan cara yang khusus. Melalui Roh, Allah memaparkan hikmatNya yang tersembunyi yang terwujud dalam Kristus yang tersalib (1 Kor.1:18-2:16). Ketiganya menggenapkan keselamatan manusia : “Allah telah mengutus Anak-Nya…untuk menebus…Allah telah mengutus Roh Anak-Nya ke dalam hati kita” (Gal.4:4-6 ; bnd Ef.1:3-14).
  • Oleh karya Ketiga Pribadi ini, jemaat dihidupkan dan diberi kuasa, “satu tubuh, dan satu Roh… satu Tuhan… satu Allah dan Bapa bagi semua (Ef.4:4-6)
  • Penerima karunia berhutang kepada ketiganya: “ada rupa-rupa karunia tetapi Roh yang sama. Ada rupa-rupa pelayanan, tetapi Tuhan yang sama, dan ada rupa-rupa kegiatan, tetapi Allah yang sama mengerjakan semua dalam setiap orang (1 Kor.12:4-6)
  • Umat Allah bergantung kepada ketiganya: “Kiranya anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allahserta persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2 Kor.13:13). Paulus tidak membuat perbedaan status dalam cara ini.
  • Umat percaya memanjatkan doa bagi Allah Bapa melalui Kristus Tuhan oleh pertolongan Roh Kudus (Roma 8:26-27 ; Ef. 2:18 ; 6:18).