Minggu, 01 Mei 2022

Sejarah Pendidikan Kristen



PENDIDIKAN 




Orang Israel menyediakan pendidikan bagi anak-anak mereka. Pendidikan itu mencakup pelajaran agama dan juga pelatihan dalam berbagai keterampilan yang akan mereka perlukan dalam dunia sehari-hari. Di Israel pada zaman purba, pendidikan merupakan suatu proses informal. Sebagian besar atau semua pendidikan itu dilakukan oleh orang tua. Tidak ada ruang kelas atau kurikulum yang tersusun. Pada zaman Perjanjian Baru, orang Yahudi telah memakai pendekatan yang lebih formal terhadap pendidikan. Mereka menyediakan ruang-ruang kelas dan guru-guru yang memenuhi syarat untuk mengajar semua anak di desa. Seorang guru bukan hanya mengajar tetapi juga menjadi teladan kesalehan. Pendidikan agama anak-anak adalah tanggung jawab orang tua (Ul. 11:19: 32:46).

Pada hakikatnya, seorang ayah Israel bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya; tetapi para ibu juga memainkan peranan yang amat penting, terutama sampai seorang anak mencapai umur lima tahun. Selama tahun-tahun pertumbuhan itu, sang ibu seharusnya membentuk masa depan anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan. Perhatian utama orang tua Yahudi ialah agar anak-anak mereka menjadi mengenal Allah yang hidup. Dibutuhkan waktu seumur hidup untuk menyelesaikan pendidikan seorang anak. Pendidikan mempersiapkan anak-anak untuk menjadi anggota-anggota masyarakat yang berguna dan produktif. Sekolah-sekolah Sinagoge. Kita tidak tahu dengan tepat kapan pertama kalinya sekolah-sekolah sinagoge itu didirikan. Setiap hari Sabat, orang-orang Yahudi dengan setia berkumpul di sinagoge untuk mendengar rabi mereka membaca Kitab Suci dan menerangkan hukum Taurat. Selama minggu itu, anak-anak lelaki datang ke kelas-kelas ini untuk mempelajari Kitab Suci di bawah guru-guru yang memenuhi syarat. Di samping membaca Kitab Suci, anak laki-laki Yahudi mendapat pelajaran tatakrama, musik, cara bertempur, dan pengetahuan praktis lainnya. Hanya anak laki-laki yang menerima pendidikan formal di luar rumah. Mereka mulai dengan berkumpul di rumah guru, tempat mereka membaca gulungan-gulungan naskah yang berisi bagian-bagian kecil dari Kitab-kitab Suci, seperti Shema. Ini adalah "sekolah dasar" pada zaman itu. Ketika anak-anak laki-laki itu cukup besar untuk belajar pelajaran sabat, mereka berkumpul di "rumah Kitab" - yaitu sinagoge. Kemudian mereka diperbolehkan membahas soal-soal tentang hukum Taurat dengan guru-guru Farisi. Pembahasan-pembahasan ini merupakan tingkat "lanjutan" dari pendidikan Yahudi. Pelatihan Kejuruan. Para ayah juga bertanggung jawab untuk mengajar anak laki-laki mereka sebuah kejuruan atau keterampilan. 


Sementara anak laki-laki belajar berbagai keterampilan ini, anak-anak perempuan belajar membakar roti, memintal, dan menenun di bawah pengawasan ibu mereka (Kel. 35:25-26; 2Sam. 13:8). Lain lagi dengan apa yang dilakukan orang Romawi abad pertama, mereka lebih mementingkan keorganisasian. Sehingga pelajaran pidato, penguasaan masa, pengembangan kebribadian dianggap paling penting pada jaman itu. Mulailah pelajaran bahasa menjadi popular bersamaan dengan system organisasi yang lebih baik, keteknikan lebih maju. Kaum Farisi Kehidupan sehari-hari 1. Mementingkan hal-hal yang bersifat lahiriah. 2. Suka disanjung dan dihormati orang 3. Menganggap diri paling suci. 4. Memelihara sistem ibadah yang diturunkan oleh nenek moyang 5. Dari semua kelompok, kelompok ini yang paling radikal. 6. Kelompok Farisi adalah kelompok orang-orang yang memegang teguh Taurat Musa dan adat istiadat Yahudi (Mat. 15:2). Ajaran 

1. Konsep dasar agama adalah kepercayaan, pembuangan ke Babel merupakan akibat dari ketidaktaan melakukan Hukum Taurat.
2. Menerima Taurat tertulis dan lisan. 
3. Mempertahankan keesaan dan kekudusan Allah 
4. Lebih menekankan etika
5. Menekankan perpuluhan, perpuluhan yang lengkap merupakan wujud dari hidup taat kepada Allah. 6. Mereka percaya bahwa roh tidak akan binasa 
7. Percaya ada kebangkitan orang mati dan juga hukuman kekal
8. Percaya adanya malaikat 
9. Percaya bahwa di sorga masih ada perkara-perkara dunia seperti kawin mengawin dan makan jasmani 
10. Mereka menekankan pengharapan pada Mesias yang lahir sebagai raja, namun tidak mengalami penderitaan jasmani. 
1. Tidak perlu lahir kembali 
2. Latar belakang Hellenisme Rasul Paulus hidup dalam lingkungan pendidikan Helenisme, minimal perjumpaan Paulus dengan orang-orang non Yahudi di Tarsus (1 Kor. 9:24-25). Secara kewarganegaraan Paulus adalah warga negara Romawi berdasarkan kelahirannya (KPR 22:25-29). Surat yang rasul Paulus tulis adalah dalam bahasa Yunani. Selama dalam pelayanan, Paulus melayani dunia di bawah peradaban Yunani. Kadang-kadang Paulus menggunakan istilah-istilah yang dipakai dalam agama Yunani, sekalipun diisi dengan makna Injil (KPR 17:16-34). 

3. Pengaruh peristiwa teofani yang dialaminya Dalam Kisah Para Rasul ada tiga versi berita mengenai peristiwa yang terjadi dalam perjalanan ke Damsyik, yang sangat terkenal sebagai peritiwa pertobatan rasul Paulus (KPR 9:1-9a, 22:6-16 ; 26:12-18). KPR pasal 9 Ayat 7 teman-teman seperjalanannya termangu-mangu karena mendengar suara Allah tetapi tidak melihat seorangpun. KPR 22:9 mereka semua memang melihat cahaya itu, tetapi yang mendengar suara hanya Paulus. Pasal 12 Ayat 13, 14 cahaya terang itu juga meliputi teman-temannya dan mereka semua rebah ke tanah. Peristiwa ini menyatakan pertobatan dan panggilan pelayanan yang harus dikerjakan oleh rasul Paulus. 


Paulus diutus untukk bangsa-bangsa lain (KPR 9:15; 22:21 ; 26:16-18)) Paulus yang fanatik mendadak menjadi Kristen (KPR 9). Paulus mengakui bahwa hal itu adalah kuasa Tuhan sendiri tanpa perantaraan unsur-unsur manusia (Gal.1:15 ; Flp 3:2 ; 1 Kor. 15:8 ; 2 Kor.5:17). Pertobatan ini oleh Paulus sendiri diartikan juga sebagai pengutusannya. Kerasulan Paulus dia jelaskan dalam Galatia pasal 1. Dia menjelaskan tidak menerima penyataannya dari manusia tetapi langsung dari Allah. Dampak dari pertobatan Paulus 1. Hidup bagi Kristus (Filipi 1:21-22) 2. Kristus sangat berarti dalam hidupnya (Filipi 3:5). 3. Sangat menghargai anugerah Allah (1 Timotus 1;15-16, 1 Kor.15:9-10)