PENGENALAN MUSIK DALAM IBADAH
A. Pengertian
Sebelum diadakan pembahasan secara mendalam, untuk menghindari pengertian yang keliru dari pembaca terlebih dahulu dijelaskan beberapa rumusan istilah sesuai dengan judul Penelitian.
PENATALAYANAN : Secara etimologis terdiri atas dua kata dasar yag memiliki arti berkesinambungan yaitu :
Tata adalah aturan, sistem, susunan. Layan adalah menyiapkan, mengurus, menyusun. Kedua kata ini masing-masing berubah dengan mendapatkan, awalan pe menjadi piñata artinya orang yang bertindak untuk mengatur, mengurus, menyusun, menyiapkan segala kegiatan, dan akhiran An menjadi layanan artinya cara yang dipakai oleh piñata” (Tim PKPPPB, 1998 : 907 / 504).
Penatalayanan adalah satu atau beberapa orang yang berlangsung, atau diberikan hak / mandat oleh orang lain untuk bertanggung jawab atas kegiatan yang dipercayakan, yaitu menjadi pemimpin dalam pengaturan pelayanan. Dalam Alkitab terjemahan NIV ( Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, 1978) bahwa :
Commonders adalah orang yang mendapat mandat langsung dari pemimpin tertinggi untuk mengerjakan apa yang Tuhan percayakan (I Tawarikh 28 :1).
Format adalah mandot atau orang yang dipercayakan dan mendapat kehormatan, penghargaan, berupa pelimpahan tugas dan tanggung jawab untuk mengatur para pekerja (Matius 20 : 8).2
Jadi yang dimaksud dengan penatalayanan adalah cara, sistem yang dipakai oleh satu beberapa orang yang dipercayakan untuk memimpin kegiatan organisasi baik secara langsung maupun tidak langsung dalam mengatur, menyiapkan, mengurus, melayani, mengarahkan anggota untuk bekerja sehingga mencapai tujuan yang diinginkan bersama. Tujuan penatalayanan adalah untuk mencapai pertumbuhan kesehata organisasi baik secara kualitas maupun kuantitas. Bagi orang Kristen penatalayanan sangat perlu karena kegiatan yang dilaksanakan dalam dunia merupakan mandate dari Allah dan jika tanpa penatalayanan maka semua kegiatan akan kehilangan arah / tujuan.
MUSIK : Sarana, media, wahana yang dipakai dalam ibadah untuk berkomunikasi dengan Allah. Alkitab mencatat bahwa music bukan sekedar alat tetapi juga termasuk nyanyian seperti :
Lalu para peniup nafiri dan para penyanyi serentak memperdengarkan paduan suaranya untuk enyanyikan puji-pujian dan syukur kepada Tuhan. Mereka menyaringkan suara dengan nafiri, ceracap, dan alat-aalat music sambil memuji Tuhan dengan ucapan : ‘Sebab Ia baik ! Bahsawannya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya’. Pada ketika itu Rumah Tuhan dipenuhi awan, sehingga iman-iman itu tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu, sebab kemuliaan Tuhan memenuhi Rumah Allah (II Tawarikh 5 : 13-14). 3
Dengan kata lain, music rohanilah yang pergunakan oleh setiap orang Kristen untuk memuji Tuhan dalam kegiatan ibadah.
DALAM : pada, saat, sebagai kata depan penunjuk tempat dan keadaan berlangsungnya suatu kegiatan.
IBADAH : Kebaktian, aktifitas setiap orang percaya dalam menjalin hubungan persekutuan dengan Allah untuk memenuhi kehidupan rohani, sesuai dengan waktu dan tempat yang telah ditentukan. Misalnya : setiap hari Sabat (Keluaran 20 : 8), beribadahlah di Bait Allah setiap saat (Lukas 2 : 37), berkumpul dan bersekutu (Kisah Para Rasul 2 : 1, 14).
Merupakan tempat atau lokasi yang dijadikan penulis sebagai wadah untuk menjalankan praktek pelayanan, sekaligus menjadi objek penelitian lapangan sehubungan dengan judul Penelitian yang telah dipilih.
Oleh karena itu, secara keseluruhan dari jajaran kalimat yang telah didefinisikan kata demi kata memiliki pengertian yang sebenarnya sebagai berikut ; ‘PENATALAYANAN MUSIK DALAM IBADAH GEREJA GERAKAN PENTAKOSTA HOSANA-Bukit adalah cara untuk sistem pengaturan pelayanan instrumental dan atau vocal umumnya bagi jemaat dan khususnya bagi para pelayan untuk mencapai tujuan bersama saat berbakti kepada Allah. Selanjutnya penulis menguraikan arti ‘Musik Dalam Ibadah’.
A.1. Musik.
Pada umumnya music adalah salah satu bentuk pelayanan yang selalu dibutuhkan tetapi juga membawa efek negative bagi manusia jika tidak diperhatikan atau dipahami tujuannya. Dampak ketidakahaman tentang penggunaan dan peranan musik akan mempengaruhi kehidupan manusia, baik secara universal maupun special. OLeh karena itu, perlu dimengerti arti music yang telah ada sejak semula dan dikembangkan dari zaman ke zaman oleh manusia.
1.1. Secara Universal
Berbicara tentang pengertian musik, banyak orang yang berpersepsi bahwa music adalah alat yang menghasilkan bunyi / nada yang teratur, ada yang mengatakan music adalah nyanyian atau lagu yang dikeluarkan dari mulut, bahkan ada pula yang menyimpulkan bahwa music adalah merupakan kombinasi antara alat dan suara manusia yang menghasilkan komposisi suara yang teratur dan selaras.
Dalam terjemahan kamus, music adalah “seni dan ilmu dalam hal menggabungkan bunyi atau nada vocal atau instrumen dalam pelbagai melodi, harmoni, ritme, warna nada untuk membentuk suatu komposisi yag lengkap secara structural dan mengekspresikan emosi atau perasaan” menurut Webster (Yoseph Ibrahim, 1989 : 1). 4 Sedangkan menurut Tim PKPPPB (1988 : 602) music adalah “merupakan ilmu atau seni menyusun nada atau suara dalam urutan kombinasi dan hubungan temporan untuk menghasilkan komposisi yang berkesinambungan. Susunan nada tersebut mengandung irama lagu yang harmonis” 5
Dari kedua pandangan diatas dapat disimpulkan bahwa, music adalah susunan dari nada-nada baik vocal, instrument atau dikombinasikan yang memiliki hubungan temporal, birama dan komposisi
suara secara bekesinambungan. Jika bagian-bagian ini dapat dilakukan tetapi tidak memiliki hubungan yang harmonis maka kedengarannya tidak beraturan, dan mempengaruhi orang yang mendengarnya. Adanya music bukan sekedar sebagai asesoris (alat hiasan) tetapi sangat berguna dan berpengaruh dalam kehidupan manusia music dipakai sebagai suatu alat atau sarana / kendaraan bagi manusia untuk menyampaikan pesan dan atau berkomunikasi dengan makluk-makluk roh, seperti Tuhan, Malaikat, iblis, roh jahat, makluk halus dan benda yang memiliki kekuatan gaib. Oleh karena tu, dari sisi estetika music mempunyai pengaruh terhadap kehidupan jiwa manusia seperti yang diungkapkan oleh Plato dan Aristoteles (Dr. Rhoderick J. McNeill, 1998 : 5) menyatakan, “Tentang estetika music bahwa music menirukan dan menggambarkan emosi serta keadaan jiwa manusia, sehingga kalau seseorang mendengarkan music emosinya akan dipengaruhi menjadi serup dengan sifat music tersebut, jika music yang baik ia akan menjadi orang yang baik”. 6 Bagian ini juga dikutip oleh phytagoras (Yoseph Ibrahim, 1989 : 9) “bahwa music mencakup ritme (berhubungan dengan hidup jasmani dan

